advertising, company profile, animation, multimedia, web design, printing, audio visual,magazine, event marketing, special event, exhibition, artist management, seni, seni lukis, profil artis, profil pelukis, event seni, art agenda
Fenomenologi estetis melibatkan pengalaman ke dalam suatu karya seni dari si pembuat karya seni dan juga dari penikmat seni. Dalam hal ini, penikmat seni adalah subyek dan karya seni merupakan obyek. Bagaimana subyek dan obyek tersebut berinteraksi merupakan bagian dari fenomenologi estetis.
Estetika dialami melalui selera dan perasaan, oleh karena itu estetika tidak dapat diterima melalui konsep rasional. Keindahan lebih ditangkap dengan emosi, dimana dengan batas yang absurd, estetika tidak memiliki ukuran yang pasti bagi masing-masing penikmatnya. Jika terdapat wujud karya seni yang diamati oleh penikmatnya, maka penikmat dapat berada dalam keadaan dimana ia menghayati fenomenologi pengalaman estetik. Penghayatan tersebut ditujukan baik pada obyek estetik dan pengalaman atau persepsi estetik yang dimiliki oleh penikmat itu sendiri. Oleh karena itu, keindahan bersifat subyektif. Tingkatan keindahan tidak akan sama bila obyek estetika diamati oleh pemerhati lainnya. Dengan kata lain pengamat seni memiliki respon pengalaman estetis dari sudut pandangnya sendiri. Ke dalam obyek estetika direspon dengan pendalaman mereka sendiri, dimana perasaan memiliki peranan besar terhadap persepsi mereka.
Obyek estetika sulit didefinisikan secara universal. Jika memang terjadi, maka akan muncul beragam persepsi berbeda atas suatu obyek estetika tertentu. Interaksi antara pemerhati dengan karya seni ditentukan oleh memori atas persepsi atau “mengalami seni” (art experiencing). Dengan mengalami, berarti pemerhati seni menerima obyek estetika baik melalui pemikiran maupun tindakan. Sehingga pengalaman diperlukan dalam menilai dan menikmati sebuah karya seni, namun demikian apa yang diketahui melalui pengalaman, bersifat individual dengan kata lain tidak dapat diberikan kepada orang lain.