advertising, company profile, animation, multimedia, web design, printing, audio visual,magazine, event marketing, special event, exhibition, artist management, seni, seni lukis, profil artis, profil pelukis, event seni, art agenda
Dipercaya, bahwa pengaruh warna dalam desain adalah penentu daya tarik terhadap desain tersebut. Dalam dunia periklanan, web, dan seni visual lainnya, warna mengkomunikasikan maksud dari penciptanya. Kesan pada warna menyimpulkan banyak hal pada desain.
Warna berhubungan dengan emosi manusia. Karena tiap-tiap warna sebenarnya memiliki energi yang berbeda-beda dan merupakan gelombang elektromagnetik. Bila seseorang menatap sebuah bidang yang memiliki warna tertentu, maka energi yang dihasilkan oleh gelombang elektromagnetik tersebut dapat menstimulasi fisik orang tersebut. Kesan dan mood yang didapat dari warna merah tentunya akan berbeda dengan warna biru. Iwan Wirya, seorang penulis yang sering melakukan riset masalah desain kemasan dalam pemasaran di Indonesia, berpendapat bahwa: “Konsumen melihat warna jauh lebih cepat daripada melihat bentuk atau rupa, dan warnalah yang pertama kali terlihat bila produk berada di tempat penjualan”.
Jelaslah bahwa warna memang memiliki fungsi penting dalam desain. Menurut Iwan Wirya, fungsi warna antara lain adalah untuk identifikasi, menarik perhatian, menimbulkan pengaruh psikologis, pengembangan asosiasi, menciptakan citra, sebagai unsur dekoratif, memberi kesan terhadap temperatur, serta membangkitkan trend.
Berikut ini adalah arti kesan dari beberapa warna: 1. Biru Warna biru tua melambangkan ketenangan yang sempurna juga melambangkan perasaan yang dalam. Warna ini mempunyai efek menenangkan syaraf pusat, tekanan darah, denyut nadi, tarikan nafas. Sementara semua menurun, mekanisme pertahanan tubuh membangun organisme. 2. Hijau Warna hijau melambangkan adanya elastisitas suatu keinginan, ketabahan dan kekerasan hati. Mempunyai kepribadian yang keras dan berkuasa. Warna ini mempunyai sifat meningkatkan rasa bangga, perasaan lebih superior dari orang lain. Orang yang memiliki warna ini, mempunyai sifat yang senang dipuji, dan senang menasehati orang lain. 3. Merah Melambangkan kondisi psikologis yang menguras tenaga, kekuatan kemauan serta mendorong makin cepatnya denyut nadi, menaikkan tekanan darah dan mempercepat pernafasan. Warna ini juga mempunyai daya dorong ke arah kerja aktif, memenangkan pertandingan, perjuangan, persaingan, erotisme dan produktivitas. 4. Kuning Melambangkan kegembiraan, spontanitas dan eksentrik warna ini juga mempunyai sifat longgar dan santai, senang menunda-nunda masalah. Tapi ia mempunyai cita-cita setinggi langit, semangatnya juga tinggi, berubah-ubah tetapi penuh harapan. 5. Ungu Menggambarkan sifat gempuran yang keras, merupakan perpaduan antara keintiman dan erotis atau menjurus ke pengertian yang dalam dan peka. Sifatnya sedikit kurang teliti tetapi penuh harapan. 6. Coklat Seringkali menunjukkan ciri-ciri: suka merebut, tidak suka memberi hati, kurang toleran, pesimis terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan masa depan. 7. Hitam Melambangkan kehidupan yang terhenti dan karenanya memberi kesan kehampaan, kematian, kegelapan, kebinasaan, kerusakan dan kepunahan. 8. Abu-abu Warna abu-abu tidak menunjukkan arti yang jelas. Tidak terang dan sama sekali bebas dari kecenderungan psikologis. Warna abu-abu cenderung netral.
Fenomenologi estetis melibatkan pengalaman ke dalam suatu karya seni dari si pembuat karya seni dan juga dari penikmat seni. Dalam hal ini, penikmat seni adalah subyek dan karya seni merupakan obyek. Bagaimana subyek dan obyek tersebut berinteraksi merupakan bagian dari fenomenologi estetis.
Estetika dialami melalui selera dan perasaan, oleh karena itu estetika tidak dapat diterima melalui konsep rasional. Keindahan lebih ditangkap dengan emosi, dimana dengan batas yang absurd, estetika tidak memiliki ukuran yang pasti bagi masing-masing penikmatnya. Jika terdapat wujud karya seni yang diamati oleh penikmatnya, maka penikmat dapat berada dalam keadaan dimana ia menghayati fenomenologi pengalaman estetik. Penghayatan tersebut ditujukan baik pada obyek estetik dan pengalaman atau persepsi estetik yang dimiliki oleh penikmat itu sendiri. Oleh karena itu, keindahan bersifat subyektif. Tingkatan keindahan tidak akan sama bila obyek estetika diamati oleh pemerhati lainnya. Dengan kata lain pengamat seni memiliki respon pengalaman estetis dari sudut pandangnya sendiri. Ke dalam obyek estetika direspon dengan pendalaman mereka sendiri, dimana perasaan memiliki peranan besar terhadap persepsi mereka.
Obyek estetika sulit didefinisikan secara universal. Jika memang terjadi, maka akan muncul beragam persepsi berbeda atas suatu obyek estetika tertentu. Interaksi antara pemerhati dengan karya seni ditentukan oleh memori atas persepsi atau “mengalami seni” (art experiencing). Dengan mengalami, berarti pemerhati seni menerima obyek estetika baik melalui pemikiran maupun tindakan. Sehingga pengalaman diperlukan dalam menilai dan menikmati sebuah karya seni, namun demikian apa yang diketahui melalui pengalaman, bersifat individual dengan kata lain tidak dapat diberikan kepada orang lain.